Sejumlah peserta Studium Generale Sustainability berfoto bersama saat kegiatan, Kamis, (21/5/2026). |
ORATOR.ID - Universitas Pertamina (UPER) menggelar forum diskusi Studium Generale Sustainability, Kamis, (21/5/2026). Forum ini sebagai sarana kolaborasi mewujudkan lingkungan berkelanjutan.
"UPER berkomitmen pada riset lokal, selain mencetak lulusan berkemampuan hijau (green skills) lewat program pascasarjana baru," kata Pejabat sementara (Pjs) Rektor Universitas Pertamina, Prof. Djoko Triyono.
Forum diskusi dan kuliah umum bertema Global Insights for Local Action: Bridging Academia and Industry in Energy Transition mempertemukan kurang lebih 200 peserta lintas sektor.
"Peneliti kami aktif dalam studi dan advokasi kebijakan seperti biodiesel B50 melalui Sustainability Center, serta dekarbonisasi industri demi memberikan solusi nyata di lapangan," ujar Prof. Djoko.
Direktur METRANS Transportation Consortium Prof. Marlon Boarnet mengatakan pentingnya desain kota untuk menekan emisi. Kota hijau berawal dari tata ruang yang memprioritaskan integrasi transportasi publik.
"Riset saya menunjukkan masyarakat di radius seperempat mil dari stasiun kereta menggunakan kendaraan pribadi sekitar 35 persen lebih sedikit," ucap Marlon, dari USC Sol Price School of Public Policy.
Sementara itu, Prof. Bambang Susantono mengatakan keseimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan sangat penting dalam membangun transportasi urban rendah emisi.
"Ini hanya bisa terwujud melalui sinergi antara akademisi sebagai penghasil talenta hijau, industri sebagai pembangun teknologi, serta pemerintah sebagai pemegang kebijakan," pungkas Bambang, Kepala Otorita IKN 2022–2024.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono mengatakan transisi energi bukan sekadar mengganti bahan bakar, melainkan mentransformasi cara jutaan orang bergerak dan beraktivitas setiap harinya.
"Pertamina proaktif membangun ekosistem kota cerdas untuk mewujudkan NZE 2060, melalui diversifikasi energi hijau dan transportasi terintegrasi, seperti pengembangan biodiesel B50 hingga infrastruktur kendaraan listrik," ungkap Agung.
Direktur Transformation Digitalization dan Sustainability PT Pertamina Patra Niaga Tenny Elfrida mengatakan Pertamina turut berkontribusi membangun infrastruktur kendaraan listrik nasional dengan mencatatkan porsi 24 persen dari total transaksi energi SPKLU melalui 68 stasiun pengecasan, 98 roaming charging station, dan 101 stasiun penukaran baterai.
"Selain itu menghadirkan Biosolar B35, Pertamax Green 95 (5 persen bioetanol), dan membangun pabrik bioetanol terintegrasi di Glenmore, Banyuwangi untuk keberlanjutan bahan baku," pungkas Tenny. (OID)