| Pakar Teknik Lingkungan Universitas Pertamina I Wayan Koko Suryawan, saat kegiatan. |
ORATOR.ID - Pakar Teknik Lingkungan Universitas Pertamina (UPER) I Wayan Koko Suryawan melakukan penelitian berjudul, Mewujudkan Nol Limbah untuk Tempat Pembuangan Akhir dengan Menerapkan Layanan Pengelolaan Limbah Padat Kota yang Adaptif.
Koko menemukan fakta menarik dalam kajiannya yang melibatkan 651 warga Jakarta dari kawasan kumuh dan non-kumuh. Ia pun menawarkan solusi adaptif untuk memutus rantai emisi gas metana ini langsung dari sumbernya.
"Warga Jakarta sebenarnya sudah sangat sadar bahwa memilah sampah itu penting," kata Koko, melalui siaran pers Humas Universitas Pertamina, Selasa, (5/5/2026).
Riset ini turut menyoroti perbedaan kebutuhan warga. Bagi masyarakat di kawasan elit, teknologi Smart City dan sensor pengangkutan sampah digital adalah solusinya.
Sementara bagi warga di pemukiman padat, yang paling mendesak adalah kepastian sampah mereka diangkut tepat waktu dan adanya wadah pemilahan yang memadai.
Tanpa solusi yang menyentuh akar rumput ini, peringkat Jakarta sebagai penyumbang metana dunia akan sulit diperbaiki.
"Percepatan teknologi penangkapan gas metana (Landfill Gas/LFG) di TPA Bantargebang untuk dikonversi menjadi energi listrik, mengingat kapasitas infrastruktur saat ini masih jauh dari optimal," ucapnya.
Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof Djoko Triyono mengatakan kampusnya sebagai institusi berbasis sains dan teknologi yang didirikan PT Pertamina (Persero) dalam mengatasi krisis ini.
"UPER berkomitmen menghadirkan riset terapan dan teknologi penangkapan metana untuk memastikan era open dumping segera berakhir sesuai UU No. 18 Tahun 2008, demi mendukung SDG 11 (Kota Berkelanjutan) dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim)," sebutnya. (OID)