Ketua Tim Peneliti Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi UPER, Dr. Farah Mulyasari, bersama timnya saat pemaparan materi ketika FGD di Batui Selatan, Luwuk, Sulawesi Tengah pada 2025 lalu.
ORATOR.ID - Penelitian Universitas Pertamina (UPER) menunjukkan faktor komunikasi, transparansi, dan tingkat kepercayaan masyarakat menjadi penentu utama penerimaan terhadap proyek energi, termasuk teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS).
CCUS yaitu teknologi yang menangkap gas karbon dioksida (CO₂) gas sisa dari aktivitas industri agar tidak lepas ke atmosfer dan memperparah perubahan iklim.
“Setiap daerah memiliki karakteristik sosial dan budaya yang berbeda, sehingga pendekatan dalam implementasi CCUS tidak bisa disamaratakan," kata Ketua Tim Peneliti Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi UPER, Dr. Farah Mulyasari, melalui keterangan Humas UPER, Rabu, (1/4/2026).
Tim peneliti UPER mengkaji persepsi masyarakat terhadap pembangunan infrastruktur energi di tiga wilayah, yakni Luwuk (Sulawesi Tengah), Blora (Jawa Tengah), dan Karawang (Jawa Barat).
"Pada tiga wilayah yang kami teliti, pemerintah setempat, tokoh adat, media lokal, dan komunitas menjadi aktor kunci dalam membangun kepercayaan dan menjembatani komunikasi antara proyek dan masyarakat,” sebut Farah.
Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan survei dan wawancara mendalam untuk memetakan tingkat pemahaman, kekhawatiran, serta faktor sosial yang memengaruhi penerimaan masyarakat.
"Strategi komunikasi dan pelibatan masyarakat perlu disesuaikan dengan konteks lokal agar lebih efektif dan dapat membangun kepercayaan," ulas Farah, melakukan penelitian dengan Muhammad Nur Ahadi, dan Ita Musfirowati Hanika.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Wawan Gunawan A. Kadir mengatakan penelitian ini mempertegas peran perguruan tinggi dalam mendukung transisi energi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjembatani kebutuhan industri dan perspektif masyarakat melalui riset berbasis data," bebernya.
"Penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan teknologi energi harus berjalan beriringan dengan pendekatan sosial yang kuat,” pungkas Wawan. (OID)