Atas (kiri ke kanan): Dr. Dumex Sutra Pasaribu, Dr. Nonni Soraya Sambudi, dan Dr. Nila T. Berghuis. Bawah (kiri ke kanan): Prof. Mega Mutiara Sari, Dr. Farah Mulyasari, dan Eka Puspitawati, Ph.D.
ORATOR.ID - Enam srikandi Universitas Pertamina (UPER) melakukan kolaborasi lintas disiplin dalam mengawal kedaulatan energi bangsa. Para peneliti perempuan itu mewujudkan aksi nyata pada misi besar, dari efisiensi hulu, inovasi material hijau, hingga mitigasi sosial-ekonomi.
Dr. Dumex Sutra Pasaribu, dari Fakultas Teknologi Eksplorasi dan Produksi-Teknik Geologi, menempatkan geologi struktur sebagai fondasi keamanan transisi energi.
"Transisi energi mengharuskan kita untuk memiliki pemahaman yang jauh lebih dalam tentang stabilitas perut bumi," kata Dumex, melalui rilis Humas UPER, Jumat, (24/4/2026).
Dr. Nonni Soraya Sambudi, Fakultas Teknologi Industri-Teknik Kimia, fokus mengembangkan teknologi material di tingkat molekuler.
"Tantangan kami adalah menciptakan bahan baku dan energi baru yang bermanfaat tinggi. Namun tetap menjaga agar polusi industri tetap berada di titik terendah," sebut Nonni.
Dr. Nila T. Berghuis, Fakultas Sains dan Ilmu Komputer-Kimia, memfokuskan kepakarannya pada regenerasi baterai Li-ion bekas.
Energi hijau tidak boleh menyisakan jejak limbah.
"Fokus kami mengubah baterai habis pakai menjadi 'tambang' bahan baku baru bagi industri kendaraan listrik nasional," ucapnya.
Prof. Mega Mutiara Sari, FPI-Teknik Lingkungan & Sustainability, menjawab tantangan transisi energi dari sudut pandang pelestarian alam dan prinsip sustainability.
"Kami mengubah beban limbah menjadi aset energi bersih yang bernilai, sekaligus menciptakan dampak positif bagi masyarakat," ulas Mega.
Dr. Farah Mulyasari, Fakultas Komunikasi dan Diplomasi-Komunikasi, memastikan transisi energi memiliki "wajah kemanusiaan".
"Tanpa literasi dan penerimaan publik, teknologi secanggih apapun tidak akan berdampak besar tanpa literasi publik yang kuat," imbuh Farah.
Eka Puspitawati, Ph.D, Fakultas Ekonomi dan Bisnis-Ekonomi, fokus risetnya terhadap dampak ekonomi dan perdagangan dari kebijakan energi, mulai dari hilirisasi biodiesel hingga dinamika pasar nikel sebagai bahan baku baterai masa depan.
"Kami memantau industri energi baru dan terbarukan, seperti bioenergy, dapat tumbuh tanpa memicu inflasi yang merugikan rakyat kecil dan menghindari kompetisi dengan sektor lain seperti pangan," jelasnya.
Sementara itu, Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Djoko Triyono mengatakan kampusnya selalu menjunjung tinggi tata nilai inklusivitas dan kolaborasi lintas disiplin.
"Keenam tokoh perempuan UPER, membuktikan pendekatan disiplin ilmu mereka dapat menyatukan proses hulu, digitalisasi, hingga kebijakan ekonomi di hilir, adalah wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi," tutupnya.
Universitas Pertamina sedang membuka pendaftaran untuk menjadi bagian dari energi masa depan. Daftar melalui https://pmb.universitaspertamina.ac.id/. (OID)